Bisnis kafe dan coffee shop menjadi salah satu peluang usaha yang menarik karena tidak hanya menjual makanan dan minuman, tetapi juga menawarkan pengalaman melalui suasana ruang, desain interior, pelayanan, hingga fasilitas pendukung. Namun, sebelum membuka usaha, diperlukan feasibility study atau studi kelayakan bisnis untuk mengetahui apakah investasi yang dikeluarkan memiliki potensi menghasilkan keuntungan yang sesuai dengan target.

Dalam feasibility study kafe dan coffee shop, salah satu aspek terpenting adalah menganalisis biaya investasi dan memperkirakan pendapatan. Analisis ini membantu calon pemilik usaha menentukan kebutuhan modal, harga jual, target pelanggan, omzet, biaya operasional, hingga potensi pengembalian investasi.

Apa Itu Feasibility Study Kafe dan Coffee Shop?

Feasibility study adalah proses analisis untuk menilai apakah sebuah rencana bisnis layak dijalankan dari berbagai aspek, termasuk pasar, teknis, operasional, keuangan, lokasi, dan manajemen.

Untuk usaha kafe dan coffee shop, feasibility study dapat digunakan untuk menjawab beberapa pertanyaan penting:

  • Berapa modal awal yang dibutuhkan?
  • Berapa biaya operasional setiap bulan?
  • Berapa target penjualan yang harus dicapai?
  • Berapa estimasi omzet bulanan?
  • Berapa potensi laba bersih?
  • Kapan modal investasi dapat kembali?
  • Apakah lokasi dan konsep usaha memiliki prospek pasar yang baik?

Dengan demikian, feasibility study kafe bukan sekadar menghitung modal, tetapi menjadi dasar dalam mengambil keputusan bisnis.

1. Menghitung Biaya Investasi Awal

Langkah pertama dalam analisis kelayakan bisnis adalah menghitung seluruh kebutuhan investasi awal. Biaya investasi sebaiknya tidak hanya memperhitungkan pembelian peralatan, tetapi juga pembangunan, desain, perizinan, dan modal kerja awal.

Beberapa komponen biaya investasi kafe antara lain:

Renovasi dan Pembangunan

Biaya ini dapat mencakup renovasi bangunan, pekerjaan lantai, plafon, dinding, instalasi listrik, plumbing, area dapur, toilet, hingga pekerjaan fasad.

Untuk kafe dengan konsep yang kuat, desain interior juga perlu diperhitungkan sejak awal karena karakter ruang dapat memengaruhi pengalaman pelanggan dan daya tarik visual bisnis.

Furnitur dan Interior

Komponen ini meliputi:

  • Meja dan kursi
  • Counter bar
  • Sofa
  • Rak display
  • Lighting
  • Dekorasi
  • Signage
  • Elemen branding interior
  • Perlengkapan outdoor

Pemilihan furnitur sebaiknya disesuaikan dengan konsep, kapasitas tempat duduk, target pasar, serta luas bangunan.

Peralatan Dapur dan Bar

Coffee shop membutuhkan peralatan khusus seperti mesin espresso, grinder, brewer, refrigerator, freezer, blender, oven, kompor, sink, dan berbagai peralatan pengolahan makanan.

Nilai investasi peralatan dapat berbeda cukup besar tergantung skala usaha dan kualitas equipment yang dipilih.

Perizinan dan Legalitas

Biaya legalitas, perizinan, administrasi, serta kebutuhan sertifikasi tertentu juga perlu dimasukkan dalam perencanaan investasi.

Teknologi dan Sistem Operasional

Kebutuhan teknologi dapat meliputi:

  • POS atau kasir digital
  • Printer struk
  • CCTV
  • Wi-Fi
  • Sistem pembayaran digital
  • Komputer atau tablet
  • Software manajemen usaha

Modal Kerja Awal

Modal kerja diperlukan untuk membiayai operasional sebelum bisnis menghasilkan arus kas yang stabil. Komponen ini dapat mencakup bahan baku, gaji karyawan, listrik, air, pemasaran, dan biaya operasional lainnya.

2. Mengelompokkan Biaya Tetap dan Biaya Variabel

Dalam feasibility study, biaya usaha perlu dikelompokkan agar proyeksi keuangan lebih mudah dianalisis.

Biaya Tetap

Biaya tetap relatif tidak berubah meskipun jumlah penjualan mengalami perubahan. Contohnya:

  • Sewa tempat
  • Gaji karyawan tetap
  • Internet
  • Software
  • Biaya administrasi
  • Pemeliharaan rutin
  • Biaya keamanan

Biaya Variabel

Biaya variabel akan meningkat seiring meningkatnya volume penjualan.

Contohnya:

  • Kopi
  • Susu
  • Gula
  • Sirup
  • Bahan makanan
  • Kemasan
  • Es
  • Topping
  • Bahan pendukung lainnya

Pemisahan biaya ini penting untuk menghitung break-even point atau titik impas.

3. Menghitung Estimasi Pendapatan Kafe

Estimasi pendapatan dapat dihitung berdasarkan beberapa indikator utama, seperti kapasitas tempat duduk, jumlah pelanggan, rata-rata transaksi, dan jam operasional.

Formula sederhana:

Estimasi omzet harian = jumlah transaksi × rata-rata nilai transaksi

Sebagai contoh, sebuah coffee shop memiliki rata-rata 100 transaksi per hari dengan nilai transaksi rata-rata Rp45.000.

Maka:

100 × Rp45.000 = Rp4.500.000 per hari

Jika beroperasi selama 30 hari:

Rp4.500.000 × 30 = Rp135.000.000 per bulan

Angka tersebut masih berupa omzet kotor dan belum dikurangi biaya bahan baku maupun biaya operasional lainnya.

4. Menentukan Average Spending Customer

Salah satu indikator penting dalam analisis bisnis kafe adalah average spending customer atau rata-rata pengeluaran pelanggan.

Misalnya menu yang tersedia memiliki rentang harga:

  • Kopi: Rp20.000–Rp35.000
  • Non-coffee: Rp20.000–Rp35.000
  • Makanan ringan: Rp20.000–Rp40.000
  • Main course: Rp30.000–Rp60.000
  • Dessert: Rp20.000–Rp35.000

Dengan strategi bundling, upselling, dan kombinasi menu, nilai transaksi rata-rata dapat ditingkatkan.

Misalnya pelanggan rata-rata membeli satu minuman dan satu makanan, sehingga average spending berada di kisaran Rp40.000–Rp60.000 per transaksi.

5. Menghitung Food Cost dan Beverage Cost

Pendapatan tinggi belum tentu menghasilkan keuntungan tinggi. Salah satu faktor yang sangat menentukan adalah pengendalian biaya bahan baku.

Food cost merupakan persentase biaya bahan makanan terhadap harga jual.

Contohnya, jika sebuah menu dijual Rp40.000 dan biaya bahan bakunya Rp12.000:

Food cost = Rp12.000 ÷ Rp40.000 × 100% = 30%

Perhitungan serupa dapat dilakukan untuk produk minuman atau beverage.

Pengendalian food cost penting agar margin keuntungan tetap sehat tanpa mengorbankan kualitas produk.

6. Menghitung Break-Even Point

Break-Even Point (BEP) adalah kondisi ketika pendapatan usaha mampu menutup seluruh biaya, sehingga bisnis belum menghasilkan laba tetapi juga tidak mengalami kerugian.

Secara sederhana:

BEP unit = Biaya tetap ÷ Margin kontribusi per transaksi

Misalnya biaya tetap bulanan sebesar Rp50 juta dan rata-rata margin kontribusi per transaksi adalah Rp30.000.

Maka:

Rp50.000.000 ÷ Rp30.000 = sekitar 1.667 transaksi per bulan

Jika kafe beroperasi 30 hari:

1.667 ÷ 30 = sekitar 56 transaksi per hari

Artinya, bisnis perlu mencapai sekitar 56 transaksi per hari untuk menutup biaya tetap berdasarkan asumsi tersebut.

7. Menghitung Estimasi Laba Bersih

Setelah omzet dan biaya diketahui, langkah selanjutnya adalah menghitung laba.

Contoh sederhana:

Omzet bulanan: Rp135.000.000
Biaya bahan baku: Rp40.500.000
Biaya operasional lainnya: Rp55.000.000

Maka estimasi laba operasional:

Rp135.000.000 – Rp40.500.000 – Rp55.000.000 = Rp39.500.000

Perhitungan aktual tentu perlu memasukkan seluruh komponen biaya, termasuk pajak, penyusutan aset, biaya pemasaran, maintenance, dan biaya tak terduga.

8. Menghitung Return on Investment

Dalam feasibility study, Return on Investment atau ROI digunakan untuk melihat tingkat pengembalian terhadap modal yang ditanamkan.

Formula sederhananya:

ROI = laba bersih tahunan ÷ total investasi × 100%

Misalnya total investasi awal sebesar Rp600 juta dan estimasi laba bersih tahunan Rp180 juta:

ROI = Rp180 juta ÷ Rp600 juta × 100% = 30% per tahun

Angka tersebut kemudian dapat dibandingkan dengan target pengembalian investasi dan tingkat risiko bisnis.

9. Mengestimasi Payback Period

Payback Period menunjukkan perkiraan waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan modal awal.

Misalnya:

Investasi awal = Rp600 juta
Laba bersih rata-rata = Rp40 juta per bulan

Maka:

Rp600 juta ÷ Rp40 juta = 15 bulan

Namun, dalam praktiknya, perhitungan sebaiknya menggunakan proyeksi arus kas yang mempertimbangkan perubahan penjualan, musim ramai dan sepi, kenaikan biaya bahan baku, serta perkembangan bisnis.

10. Membuat Skenario Optimistis, Moderat, dan Pesimistis

Kesalahan yang sering terjadi dalam membuat proyeksi bisnis adalah hanya menggunakan satu asumsi penjualan.

Dalam feasibility study coffee shop, sebaiknya dibuat minimal tiga skenario:

Skenario Kondisi Penjualan Tujuan
Pesimistis Penjualan di bawah target Mengukur risiko
Moderat Penjualan sesuai target realistis Dasar perencanaan
Optimistis Penjualan melebihi target Mengukur potensi maksimal

Contohnya, jika target dasar adalah 100 transaksi per hari, maka proyeksi dapat dibuat dengan asumsi 70 transaksi, 100 transaksi, dan 130 transaksi per hari.

Cara ini membantu investor melihat apakah bisnis tetap mampu bertahan ketika kondisi pasar tidak sesuai harapan.

11. Faktor Lokasi dalam Feasibility Study

Lokasi memiliki pengaruh besar terhadap potensi pendapatan kafe.

Beberapa aspek yang perlu dianalisis antara lain:

  • Kepadatan penduduk
  • Profil target konsumen
  • Akses kendaraan
  • Visibilitas lokasi
  • Ketersediaan parkir
  • Kedekatan dengan perkantoran
  • Kedekatan dengan kampus atau sekolah
  • Kompetitor di sekitar lokasi
  • Aktivitas kawasan
  • Potensi perkembangan kawasan

Lokasi dengan biaya sewa lebih murah belum tentu lebih menguntungkan jika traffic pelanggan rendah.

Sebaliknya, lokasi dengan biaya sewa lebih tinggi dapat menjadi menarik jika memiliki potensi traffic dan daya beli konsumen yang kuat.

12. Peran Desain Interior dalam Kelayakan Bisnis

Dalam bisnis kafe modern, desain interior bukan hanya elemen estetika. Interior dapat menjadi bagian dari strategi bisnis.

Konsep ruang yang menarik dapat membantu:

  • Meningkatkan kenyamanan pelanggan
  • Menciptakan identitas brand
  • Mendorong pelanggan untuk tinggal lebih lama
  • Meningkatkan potensi repeat order
  • Menjadi daya tarik untuk konten media sosial
  • Membentuk pengalaman pelanggan

Namun, investasi desain interior tetap harus disesuaikan dengan kemampuan finansial bisnis. Interior yang terlalu mahal dapat memperpanjang waktu pengembalian modal apabila tidak diimbangi dengan peningkatan pendapatan.

Feasibility study usaha kafe dan coffee shop merupakan langkah penting sebelum melakukan investasi. Analisis tidak cukup hanya menghitung biaya pembangunan dan pembelian peralatan, tetapi juga perlu memperhitungkan modal kerja, biaya operasional, kapasitas penjualan, harga produk, food cost, omzet, laba, BEP, ROI, dan payback period.

Proyeksi pendapatan juga sebaiknya dibuat berdasarkan data dan asumsi yang realistis dengan mempertimbangkan kondisi pasar, lokasi, kompetitor, konsep bisnis, kapasitas ruang, serta target konsumen.

Dengan analisis biaya investasi dan estimasi pendapatan yang terukur, calon pemilik kafe dapat mengetahui kebutuhan modal, menentukan strategi harga, menetapkan target penjualan, mengantisipasi risiko, dan menilai apakah rencana bisnis memiliki prospek yang layak untuk dijalankan.

Pada akhirnya, feasibility study bukan sekadar dokumen perhitungan keuangan, tetapi alat strategis untuk membuat keputusan investasi kafe dan coffee shop secara lebih terukur dan rasional.

 

Lokasi Layanan Kami

Bandung dan Jawa barat : Bandung Cimahi Sumedang Tasikmalaya Garut Subang Cianjur Sukabumi Ciamis Bogor Cirebon Karawang Cikampek

Jakarta dan Sekitarnya : Jakarta Tangerang Banten Bogor Depok Bekasi

Indonesia : Jawa Bali Timor Sumatra Kalimantan Sulawesi Maluku Papua Lombok Flores

Dengan pengalaman dalam menangani berbagai proyek di Jakarta dan Bandung, kami memahami karakter urban dan lingkungan alam di masing-masing kota, dan mampu meresponsnya dengan pendekatan desain yang kontekstual dan berkelas.

 

www.rytamautama.com